Sabtu, 30 Maret 2013

Mekanisme Menelan dan Reflek Batuk


FISIOLOGI MENELAN (deglutisi)
Pada umumnya menelan dibagi menjadi tahap volunter, tahap faringeal, dan tahap esofagel.
1.      Tahap volunter proses menelan
Bila makanaa sudah siap ditelan, secara sadar makanan ditekan dan digulung ke arah posterior ke dalam faring oleh tekanan lidah ke atas dank ke belakang terhadap palatum, proses berlangsung secara otomatis dan tidak dapat dihentikan.

 
 


2.      Tahap faringeal
Bolus makanan di bagian posterior mulut dan faring merangsang daerah reseptor menelan di seluruh pintu faring, khususnya di tiang-tiang tonsil, dan impuls ini berjalan ke batang otak untuk mencetuskan kontraksi otot faringeal secara otomatis sebagai berikut:
·         Palatum mole tertarik ke atas untuk menutupi nares posterior untuk mencegah refluk makanan ke rongga hidung
·         Lipatan palatofaringeal di kedus sisi faring tertarik kea rah medial untuk saling mendekat satu sama lain. Lipatan membentuk celah sagital yang dilewati makana untuk masuk ke faring posterior. Celah ini bersifat selektif, hanya makanan yang sudah dikunyah yang dapat melewati celah ini dan berlangsung kurang dari 1 detik.
·         Pita suara laring bertautan erat dan laring di tarik ke atas dan anterior oleh otot-otot leher bersama ligamen untuk mencegah makanan pergerakan epiglotis ke atas  sehingga epiglotis bergerak ke belakang di atas permukaan laring. Efek ini mencegah masuknya makanan ke dalam trakea. Epiglotis membantu mencegah makan masuk ke pita suara
·         Gerakan laring ke atas juga menarik dan melebarkan pembukaan esofagus. Pada saat yang bersamaan di sfingter faringoesofageal berelaksasi sehingga makanan dapat bergerak bebas dari faring posterior menuju esofagus bagian atas. Saat menelan sfingter ini berkontraksi secara kuat sehingga mencegah udara masuk ke esofagus selama respirasi.
·         Pada saat terangkatnya laring dan relaksasi sfingter faringoesofageal, seluruh dinding faring berkontraksi dan mendorong makanan masuk ke esophagus.
3.      Tahap esofageal
Esofagus berfungsi menyalurkan dari faring ke lambung dengan gerakan khusus. Esofagus menunjukkan 2 tipe gerakan peristaltik: peristaltik primer dan sekunder.  Peristaltik primer dimulai dari faring menyebar ke esofagus selama tahap faringeal. Gelombang ini berjalan dari faring ke lambung selama 8-10 detik. Jika gelombang ini gagal mendorong semua makanan ke dalam lambung, terjadi gelombang peristaltik sekunder yang dihasilkan dari peregangan esofagus oleh makanan yang tertahan dan terus berlanjut sampai semua makanan masuk lambung.
Sewaktu gelombang peristaltik berjalan, timbul gelombang relaksasi mendahului gelombang peristaltik (relaksasi reseptif), sehingga sfingter gastroesofageal, lambung dan duodenum relaksasi dan memeprsiapkan diri lebih awal untuk menerima makanan.

REFLEK BATUK
Reflek batuk berawal dari iritan / rangsangan menginduksi imuls aferen dari nervus vagus di saluran nafas ke medula oblongata. Lintasan neural medulla memberikan efek sebagai berikut: 
1.      Kira-kira 2,5 liter udara diinspirasi.
2.      Epiglotis menutup , pita suara menutup erat-erat untuk menjerat udara dalam paru.
3.      Otot-otot perut berkontraksi dengan kuat mendorong diafragma, sedang oto-otot ekspirasi lain seperti interkostalis eksternus juga berkontraksi dengan kuat. Akibatnya, tekanan dalam paru meningkat sampai ≥ 100 mmHg.
4.      Pita suara dengan epiglottis sekonyong-konyong terbuka lebar, sehingga udara bertekanan tinggi dalam paru meledak keluar. Udara ini dikeluarkan dengan kecepatan 75-100 mil/jm.
5.      Penekanan kuat pada paru menyebabkan bronkus dan trakea menjadi kolaps sehingga bagian yang tidak berkartilago berinvaginasi kedalam, sehingga udara yang meledak benar-benar mengalir melalui celah-celah bronkus dan trakea. Udara yang mengalir dengan cepat biasanya membawa benda-benda asing apapun yang terdapat di bronkus dan trakea.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar