Selasa, 18 Oktober 2016

JUAL KUMPULAN REFERAT KEDOKTERAN DAN LAPSUS

Terdapat berbagaimacam kumpulan referat dari berbagai bidang ilmu kedokteran. Cocok untuk koass yang dapat membantu mencari referensi referat untuk tugas kalian
Cek IG: referatkedokteran
Line: @cbp6202d

Sabtu, 23 April 2016

SEWA FLOAT MURAH SEMARANG

OPENING PROMO JUST 50rb/hari FOR RENTAL
IG: ibelfloatsemarang
Line: ibel.floatsmg
WA: 081215149184

SEWA FLOAT TERMURAH DI SEMARANG

Hanya 50rb/hari
IG: ibelfloatsemarang
Line: ibel.floatsmg
WA: 081215149184

Rabu, 15 Mei 2013

Mekanisme Penglihatan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Mata merupakan salah satu alat indera khusus yang dimiliki manusia, dan berguna untuk melihat. Dalam kehidupan sehari-hari, mata sangat berguna untuk membantu mempermudah kita dalam mengerjakan segala sesuatunya, bahkan untuk hal-hal sederhana seperti berjalan, atau makan dan minum. Tanpa organ mata yang baik, kita juga akan mengalami kesulitan dalam beraktivitas. Makalah ini dibuat dengan tujuan memperdalam pengetahuan dan pengertian mengenai organ mata, dari struktur dan bagian-bagiannya, hingga mengenai mekanisme kerjanya sampai ke otak. Diharapkan dengan dibuatnya makalah ini dapat memberi ilmu sehingga nantinya dapat membantu praktek-praktek klinis yang berhubungan dengan mata, sebab tidak sedikit orang yang mengalami gangguan penglihatan, dan sebagai seorang dokter, penting
1.2  Tujuan
Ø  Menjelaskan tentang struktur makroskopis mata
Ø  Menjelaskan tentang struktur mikroskopis mata
Ø  Menjelaskan tentang fungsi refkraksi dan akomodasi
Ø  Menjelaskan  mekanisme penglihatan
Ø  Menjelaskan tentang pemeriksaan ketajaman penglihatan dengan snellen chart
BAB II
ISI
Langkah 1
Identifikasi Istilah
-
Langkah 2
Rumusan Masalah
“Penglihatan semakin tidak jelas, pasien di sarankan memakai kacamata +”
Langkah 3
Mind Maping (disable)

Langkah 4
Gangguan pada mata dapat terjadi karena, kelainan refraksi, organ mata, dan gangguan nervus optikus & lobus occipital
Langkah 5
Sasaran Pembelajaran
1.         Struktur Makrokopis Mata
Mata memiliki aksesoris yang dapat dilihat dari luar. Orbita adalah lekukan tulang yang berisi bola mata. Hanya seperlima rongga orbita terisi bola mata, sisanya berisi jaringan ikat dan adiposa serta otot mata ekstrinsik, yang berasal dari orbita dan menginsersi bola mata. Terdapat tiga pasang otot mata, yakni dua pasang otot rektus dan satu pasang otot oblik yang memungkinkan mata untuk bergerak bebas ke arah vertikal, horizontal, dan menyilang.
            Alis mata berfungsi melindungi mata dari keringat. Kelopak mata (palpebrae) atas dan bawah melindungi mata dari kekeringan dan debu. Fisura palpebral atau ruang antara palpebrae atas dan bawah, ukurannya bervariasi diantara individu dan menentukan penampakan mata. Kantus medial terbentuk dari sambungan medial palpebrae atas dan bawah, kantus lateral terbentuk dari sambungan lateral palpebrae atas dan bawah. Karunkel adalah elevasi kecil pada sambungan medial. Bagian ini terisi kelenjar sebasea dan kelenjar keringat.
Konjungtiva adalah lapisan pelindung tipis epitelium yang melapisi setiap palpebrae (konjungtiva palpebral) dan terlipat kembali di atas permukaan anterior bola mata (bulbar, atau okular, konjungtiva). Lempeng tarsal pada setiap palpebrae adalah bubungan jaringan ikat yang rapat. Kelenjar Meibomian, yang merupakan pembesaran kelenjar sebasea pada lempeng tarsal, mensekresi barier minyak yang berlebihan pada palpebrae bagian bawah.
            Aparatus lakrimal penting untuk produksi dan pengaliran air mata. Air mata mengandung garam, mukosa, dan lisozim. Cairan ini membasahi permukaan mata dan mempertahankan kelembabannya. Jika kita berkedip maka akan menekan kelenjar lakrimal dan menyebabkan produksi air mata. Air mata keluar melalui pungtum papita lakrimal yang menyambung kantong lakrimal. Kantong membuka ke dalam duktus nasolakrimal, yang pada gilirannya akan masuk ke rongga nasal.1
Mata juga dapat digerakkan karena adanya otot-otot mata. Mata digerakkan di dalam orbita oleh enam otot mata. Otot-otot ini dipersarafi oleh saraf okulomotorius, troklearis dan abdusens.2 Enam otot ekstraokular ini adalah; m. oblikus inferior, m. oblikus superior, m. rektus medialis, m. rektus lateralis, m. rektus superior dan m. rektus inferior.2,3
Bola mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan. Dari paling luar ke paling dalam, lapisan-lapisan itu adalah tunika fibrosa, tunika vaskular, tunika nervosa.1,4
1.      Lapisan terluar (tunika fibrosa)
a.       Sklera merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata, memberi bentuk pada bola mata dan memberikan tempat perlekatan untuk otot eksentrik.
b.      Kornea adalah selaput bening mata, yang tembus cahaya dan merupakan lapisan yang menutup bola mata. Kornea juga merupakan perpanjangan anterior yang transparan pada sklera di bagian depan mata. Bagian ini bertugas mentransmisi cahaya dan memfokuskan berkas cahaya.1
2.      Lapisan tengah (tunika vaskular)
a.       Lapisan koroid adalah bagian yang sangat terpigmentasi untuk mencegah refleksi internal berkas cahaya. Bagian ini juga sangat tervaskularisasi untuk memberikan nutrisi pada mata, dan elastik sehingga dapat menarik ligament suspensori.
b.      Bagian siliaris, mengandung pembuluh darah dan otot siliaris. Otot melekat pada ligamen suspensorik yang merupakan tempat perlekatan lensa. Otot ini penting dalam akomodasi penglihatan, atau kemampuan untuk mengubah fokus dari objek berjarak jauh ke objek berjarak dekat di depan mata.
c.       Iris, perpanjangan sisi anterior koroid, merupakan bagian mata yang berwarna bening. Iris berfungsi untuk mengendalikan diameter pupil.
d.      Pupil adalah ruang terbuka yang bulat pada iris yang harus dilalui cahaya untuk dapat masuk ke interior mata.1
3.      Lensa adalah struktur bikonveks yang bening dan terletak di belakang iris yang terdiri dari zat tembus cahaya berbentuk seperti cakaram yang dapat menebal dan menipis pada saat terjadinya akomodasi. Elastisitasnya sangat tinggi, dan sifatnya akan menurun seiring proses penuaan.2
4.      Rongga mata. Lensa memisah interior mata menjadi dua rongga, yaitu rongga anterior dan rongga posterior.
a.       Rongga anterior terbagi menjadi dua ruang.
1.      Ruang anterior terletak di belakang kornea dan di depan iris; ruang posterior terletak di depan lensa dan di belakan iris
2.      Ruang tersebut berisi aqueous humor, suatu cairan bening yang diproduksi prosessus siliaris untuk mencukupi kebutuhan nutrisi lensa dan kornea.
b.      Rongga posterior terletak di antara lensa dan retina dan berisi vitreus humor, semacam gel transparan yang juga berperan untuk mempertahankan bentuk bola mata dan mempertahankan posisi retina terhadap kornea.1,2
5.      Retina (selaput jala), lapisan terdalam mata (tunika nervosa), adalah lapisan yang tipis dan transparan. Lapisan ini terdiri dari lapisan terpigmentasi luar, dan lapisan jaringan saraf dalam. Retina juga merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang menerima rangsangan cahaya.
a.       Lapisan terpigmentasi luar, melekat pada lapisan koroid. Berfungsi untuk menyerap cahaya berlebih dan mencegah refleksi internal berkas cahaya yang melalui bola mata. Lapisan ini juga mengandung vitamin A.
b.      Lapisan jaringan saraf dalam (optikal), yang terdiri dari berbagai jenis neuron yang tersusun di dalamnya.
c.       Bintik buta (diskus optik) adalah titik keluar saraf optic. Tidak ada fotoreseptor pada area ini, maka tidak ada sensasi penglihatan yang terjadi saat cahaya jatuh ke area ini.
d.      Lutea makula, adalah area kekuningan yang terletak agak lateral terhadap pusat.
e.       Fovea, bagian ini adalah pusat visual mata. Bayangan yang terfokus disini akan diinterpretasi dengan jelas oleh dan tajam oleh otak.1   
Sel batang dan kerucut adalah reseptor fotosensitif yang terletak berdekatan dengan lapisan terpigmentasi. Sel batang adalah neuron silindris bipolar yang termodifikasi menjadi dendrit sensitif cahaya. Setiap mata berisi sekitar 120 juta sel batang terletak terutama pada perifer retina. Sel batang tidak sensitif terhadap warna dan bertanggung jawab untuk penglihatan di malam hari. Sel kerucut berperan dalam persepsi warna. Sel ini berfungsi pada tingkat intensitas cahaya yang tinggi dan berperan dalam penglihatan di siang hari. Neuron bipolar membentuk lapisan tengah dan menghubungkan sel batang dan sel kerucut ke sel-sel ganglion. Sel ganglion mengandung akson yang bergabung pada regia khusus dalam retina untuk membentuk saraf optik.
Sel horizontal dan sel amakrin merupakan sel lain yang ditemukan dalam retina, sel ini berperan untuk menghubungkan sinaps-sinaps lateral. Cahaya masuk melalui lapisan ganglion, lapisan bipolar dan badan sel batang serta kerucut untuk menstimuli prosesus dendrit dan memicu impuls saraf, lalu menjalar dengan arah terbalik melalui kedua lapisan sel saraf.
Saraf optik terbentuk dari akson sel-sel ganglion yang keluar dari mata dan bergabung tepat di sisi superior kelenjar hipofisis membentuk kiasma optik. Pada kiasma optik, serabut neuron yang berasal dari separuh bagian temporal (lateral) setiap retina tetap berada di sisi yang sama sementara serabut neuron yang berasal dari separuh bagian nasal (medial) setiap retina menyilang ke sisi yang berlawanan. Setelah kiasma optik, serabut akson membentuk traktus optik, yang memanjang untuk bersinaps dengan neuron dalam nukleus genikulatus lateralis di talamus. Aksonnya menjalar ke korteks lobus oksipital. Sebagian akson berhubungan dengan kolikuli superior, okulomotorik, dan nuklei praketum dengan berpartisipasi dalam refleks pupilaris dan siliaris.1



2.         Struktur Mikroskopis Mata
Palpebra (kelopak mata)
Lapisan terluar palpebra adalah kulit tipis. Terdapat epidermis yang terdiri atas epitel berlapis gepeng dengan papila. Di dalam dermis terdapat folikel-folikel rambut dengan kelenjar sebasea dan juga kelenjar keringat. Lapisan terdalam palpebra adalah membrane mukosa yang disebut konjungtiva palpebrae, lapisan ini terletak bersebelahan dengan bola mata. Epitel pelapis konjungtiva palpebrae adalah epitel berlapis silindris rendah dengan sedikit sel goblet. Ujung bebas palpebra mengandung bulu mata yang muncul dari folikel rambut, dan di antara folikel rambut bulu mata terdapat kelenjar keringat Moll. Palpebra mengandung tiga set otot, yaitu m.orbicularis occuli, m.siliaris, dan m.tarsalis superior.5
Kelenjar Lakrimal
Kelenjar lakrimal menyekresi air mata dan disusun oleh beberapa kelenjar tubuloasinar. Asini seretorisnya bervariasi dalam hal bentuk maupun ukurannya dan mirip jenis serosa, tetapi lumennya lebih besar. Sejumlah asini menampakkan kantung-kantung tak teratur sel di dalam lumennya. Sel-sel asinar lebih silindris daripada pyramidal, mengandung granul sekresi dan tetes lipid besar dan terpulas lemah. Terdapat juga sel-sel mioepitel yang mengelilingi tiap-tiap asini. Duktus ekskretorius intralobular yang lebih kecil dilapisi epitel selapis kuboid atau silindris. Duktus intralobular yang lebih besar dan duktus interlobular dilapisi dua lapis sel silindris rendah atau epitel bertingkat semu. Jaringan ikat interlobular lebih banyak daripada jaringan ikat intralobular dan dapat mengandung sel-sel lemak.5,6
Bola mata dikelilingi oleh tiga lapisan konsentris utama yaitu jaringan ikat fibrosa kuat di luar, terdiri atas skelra dan kornea, lapisan tengah terdiri dari koroid berpigmen yang sangat vaskular, korpus siliaris (terdiri atas prosesus siliaris dan muskulus siliaris) dan iris, serta lapisan terdalam terdiri atas jaringan saraf fotosensitif, yaitu retina.5
            Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, dan secara histology terdiri atas lima lapisan:2,7,8
1.        Epitel: terdiri atas sel epitel berlapis gepeng tidak bertanduk dan berasal dari ectoderm permukaan.
2.        Membrane bowman: terletak di bawah membrane basal epitel kornea yang merupakankolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Terdiri dari fibril kolagen yang halus.
3.        Stroma: merupakan lapisan yang paling tebal, dan tidak mengandung pembuluh darah. Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen. Terdapat keratosit yang merupakan fibroblast dan terletak di antara serat kolagen stroma.
4.        Membran descementi: merupakan membrane aselular dan merupakan batas belakang dari stroma. Bersifat sangat elastic dan berkembang terus seumur hidup, terdiri atas serat kolagen yang tersusun rapi seperti jala.
5.        Endotel: berasal dari mesotelium, tersusun atas sel epitel selapis gepeng, berbentuk heksagonal.
Sklera adalah lapisan jaringan ikat kuat, opak putih, terdiri atas anyaman padat serat kolagen, dimana stromanya berjalan paralel terhadap permukaan bola mata. Di antara berkas kolagen, terdapat anyaman serat elastin halus. Fibroblas gepeng atau memanjang terdapat di seluruh sklera dan melanosit terdapat di lapisan paling dalam. Sklera mempertahankan kekakuan bola mata dan tampak sebagai bagian “putih” mata. Batas antara sklera dan kornea terdapat pada daerah peralihan yang disebut limbus yang terletak di bagian anterior mata. Di bagian posterior mata, tempat nervus optikus muncul dari kapsul okular, adalah tempat peralihan antara sklera bola mata dan duramater jaringan ikat susunan saraf pusat.5
Koroid merupakan bagian mata yang sangat vaskuler dan memiliki aliran darah yang deras.3 Koroid ini juga berperan memberi nutrisi pada bagian luar dari retina dan  mungkin ikut berperan dalam pengaturan temperature homeostasis dari retina. Koroid ini dibagi menjadi empat lapisan, yaitu:5
1.        Lamina suprakoroid: terdiri atas lamela serat-serat kolagen halus, anyaman serat elastin luas, fibroblast, dan banyak sel melanosit besar.
2.        Lapisan vaskulosa: sesuai namanya, lapisan ini mengandung banyak pembuluh darah, berukuran sedang dan besar. Di lapisan jaringan ikat longgar antar pembuluh darah terdapat banyak melanosit gepeng dan besar yang memberi warna gelap khas pada lapisan ini.
3.        Lapisan koriokapilar: mengandung anyaman kapiler dengan lumen besar di dalam stroma serat kolagen dan elastin halus.
4.        Membrane vitrea (Membran Bruch): merupakan lapisan terdalam koroid, dan terdapat bersebelahan dengan sel-sel pigmen retina.
Pada potongan sagital bola mata, korpus siliaris tampak berbentuk segitiga, terdiri atas muskulus siliaris dan prosesus siliaris. Muskulus siliaris adalah otot polos, seratnya tersusun memanjang, melingkar, dan radial. Perluasan korpus siliaris yang berlipat dan sangat vaskular membentuk prosesus siliaris. Prosesus ini melekat pada ekuator lensa melalui ligamentum suspensorium bulbi dan memungkinkan lensa mengambil bentuk konveks.5
Iris menutupi sebagian lensa dan merupakan bagian berwarna mata. Penyebaran secara melingkar dan radial iris membentuk sebuah lubang bulat disebut pupil. Bagian dalam mata yang terdapat di depan lensa dibagi menjadi dua kompartemen. Kamera okuli anterior terdapat di antara iris dan kornea, dan kamera okuli posterior terdapat di antara iris dan lensa. Kedua kamera itu berisi cairan encer, yaitu aqueous humor. Kompartemen besar di belakang lensa adalah vitreus humor yang terisi materi gelatinosa, yaitu vitreus humor yang transparan.5


Lapisan dalam atau retina bola mata adalah daerah fotosensitif mata, namun tidak seluruh retina itu fotosensitif. Di belakang korpus siliaris terdapat ora serata yang merupakan batas tajam paling anterior bagian retina yang fotosensitif, di antara ora serata terdapat bagian retina yang nonfotosensitif, yang berlanjut ke depan bola mata membentuk lapisan dalam korpus siliaris dan bagian posterior iris. Di posterior ora serata, terdapat retina optik fotosensitif yang terdiri atas banyak lapisan sel, salah satunya mengandung sel-sel sensitif-cahaya, yaitu sel batang dan sel kerucut.5
Lapisan terluar retina adalah epitel pigmen; membran basalnya membentuk lapisan terdalam membran vitrea koroid. Sel pigmen kuboid mengandung granul (pigmen) melanin di bagian apeks sitoplasma, sementara prosesus dengan granul pigmen terjulur di antara sel kerucut dan sel batang retina. Di sebelah sel-sel pigmen terdapat lapisan fotosensitif yang terdiri atas sel batang langsing dan sel kerucut yang lebih tebal. Kedua jenis sel ini terdapat di sebelah membran limitans eksterna yang dibentuk oleh cabang-cabang sel neuroglia, yaitu sel-sel Muller.
Lapisan inti luar mengandung inti sel batang dan sel kerucut dan batang cabang luar sel Muller. Di dalam lapisan pleksiform luar, akson sel kerucut dan batang bersinaps dengan dendrit sel-sel bipolar dan sel horizontal. Lapisan inti dalam mengandung inti sel-sel bipolar, horizontal dan amakrin, dan sel neuroglia Muller. Sel-sel horizontal dan amakrin adalah sel asosiasi. Di dalam lapisan pleksiform dalam, akson-akson sel bipolar bersinaps dengan dendrit sel ganglion dan sel amakrin. Lihat gambar 2 dan 3.5


Lapisan sel ganglion mengandung badan sel-sel ganglion dan sel neuroglia. Dendrit dari sel ganglion bersinaps pada lapisan pleksiform dalam.
Dinding posterior mata mengandung makula lutea dan papila optikus atau diskus optikus. Lapisan serat nervus optikus mengandung akson sel ganglion dan anyaman serat dalam sel Muller. Akson sel ganglion berkumpul pada diskus optikus. Ujung dalam serat sel Muller memancar membentuk membran limitans interna retina. Pembuluh darah retina berjalan di dalam lapisan serat nervus optikus dan masuk sampai ke lapisan inti dalam.
Makula lutea adalah bercak berpigmen kuning kecil, yang di pusatnya terdapat lekukan dangkal disebut fovea. Daerah ini merupakan daerah penglihatan paling tajam pada mata. Pusat fovea bebas sel batang dan pembuluh darah. Daerah ini hanya memiliki sel kerucut. Papila optikus adalah daerah tempat nervus optikus meninggalkan bola mata. Papila optikus tidak memiliki sel kerucut maupun sel batang sehingga merupakan “bintik buta” mata. Sklera luar bersebelahan dengan jaringan orbital, yang mengandung jaringan ikat longgar, sel-sel lemak jaringan lemak orbita, serat saraf, pembuluh darah, pembuluh limfatik, dan kelenjar.5
3.      Fungsi Refraksi
Mata memiliki berbagai mekanisme kerja agar dapat menghasilkan bayangan yang baik pada pandangan kita. Salah satu kemampuannya adalah kemampuan refraksi. Refraksi ini adalah kemampuan mata untuk membiaskan cahaya pada saat mata tidak dalam keadaan akomodasi.2,5,8 Kegiatan refraksi ini bertujuan agar kornea dapat memfokuskan bayangan. Ukuran daya bias/ daya fokus lensa yang digunakan adalah dioptri, yang dinyatakan dalam meter.  Secara numeric, dioptri adalah satu meter dibagi jarak fokus yang diukur dalam satuan meter à D = 1/f.8 Orang yang memiliki kemampuan refraksi mata dengan normal disebut emetrop, sedangkan orang dengan gangguan fungsi refraksi disebut ametrop.9
Pembelokan suatu berkas cahaya (refraksi) terjadi ketika berkas berpindah dari satu medium dengan kepadatan (densitas) tertentu ke medium dengan kepadatan yang berbeda. Cahaya bergerak lebih cepat melalui udara daripada melalui media transparan lain, misalnya air dan kaca. Ketika suatu berkas cahaya masuk ke medium dengan densitas yang lebih tinggi, cahaya tersebut melambat (sebaliknya juga berlaku). Berkas cahaya mengubah arah perjalannya jika mengenai permukaan medium baru pada setiap sudut selain tegak lurus.
Dua faktor berperan dalam derajat refraksi: densitas komparatif antara dua media (semakin besar perbedaan densitas, semakin besar derajat pembelokan) dan sudut jatuhnya berkas cahaya di medium kedua (semakin besar sudut, semakin besar pembiasan).
Pada permukaan yang melengkung seperti lensa, semakin besar kelengkungan, semakin besar derajat kelengkungan, semakin besar derajat pembiasan dan semakin kuat lensa. Ketika suatu berkas cahaya mengenai permukaan yang melengkung dengan densitas lebih besar, arah refraksi bergantung pada sudut kelengkungan. Suatu lensa dengan permukaan konveks (cembung) menyebabkan konvergensi (penyatuan) berkas-berkas cahaya, yaitu persyarafan untuk membawa suatu bayangan ke titik fokus. Dengan semikian, permukaan refraktif mata bersifat konveks. Lensa dengan permukaan konkaf (cekung) menyebabkan divergensi (penyebaran) berkas-berkas cahaya; suatu lensa konkaf berguna untuk memperbaiki kesalahan refraktif mata tertentu, misalnya berpenglihatan dekat.4


Dua struktur yang paling penting dalam kemampuan refraktif mata adalah kornea dan lensa. Permukaan kornea, struktur pertama yang dilalui cahaya sewaktu masuk mata, yang melengkung berperan paling besar dalam kemampuan refraktif total mata karena perbedaan densitas pertemuan udara/kornea jauh lebih besar daripada perbedaan densitas antara lensa dan cairan yang mengelilinginya. Kemampuan refraksi kornea seseorang tetap konstan karena kelengkungan kornea tidak pernah berubah. Sebaliknya, kemampuan refraksi lensa dapat disesuaikan dengan mengubah kelengkungannya sesuai keperluan untuk melihat dekat atau jauh.
Struktur-struktur refraksi pada mata harus membawa bayangan cahaya terfokus di retina agar penglihatan jelas. Jika suatu bayangan sudah terfokus sebelum mencapai retina atau belum terfokus sewaktu mencapai retina, bayangan tersebut tampak kabur. Berkas-berkas cahaya yang berasal dari benda dekat lebih divergen sewaktu mencapai mata daripada berkas-berkas dari sumber jauh. Berkas dari sumber cahaya yang terletak lebih dari 6 meter dianggap sejajar saat mencapai mata. Untuk kekuatan refraktif mata tertentu, sumber cahaya dekat memerlukan jarak yang lebih besar di belakang lensa agar dapat memfokuskan daripada sumber cahaya jauh, karena berkas dari sumber cahaya dekat masih berdivergensi sewaktu mencapai mata.4


Untuk mata tertentu, jarak antara lensa dan retina selalu sama. Untuk membawa sumber cahaya jauh dan dekat terfokus di retina (dalam jarak yang sama), harus dipergunakan lensa yang lebih kuat untuk sumber dekat. Kekuatan lensa dapat disesuaikan dengan proses akomodasi.

Akomodasi meningkatkan kekuatan lensa untuk penglihatan dekat
            Kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa sehingga baik sumber cahaya dekat maupun jauh dapat difokuskan di retina sebagai akomodasi. Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya, yang diatur oleh otot siliaris.
Ketika otot siliaris melemas, ligamentum suspensorium tegang dan menarik lensa, sehingga lensa berbentuk gepeng dengan kekuatan refraksi minimal. Ketika berkontraksi, garis tengah otot ini berkurang dan tegangan di ligamentum suspensorium mengendur. Sewaktu lensa kurang mendapat tarikan dari ligamentum suspensorium, lensa mengambil bentuk yang lebih sferis (bulat) karena elastisitas inherennya. Semakin besar kelengkungan lensa (karena semakin bulat), semakin besar kekuatannya, sehingga berkas-berkas cahaya lebih dibelokkan.
Pada mata normal, otot siliaris melemas dan lensa mendatar untuk penglihatan jauh, tetapi otot tersebut berkontraksi untuk memungkinkan lensa menjadi lebih cembung dan lebih kuat untuk penglihatan dekat. Otot siliaris dikontrol oleh sistem saraf otonom. Serat-serat saraf simpatis menginduksi relaksasi otot siliaris untuk penglihatan jauh, sementara sistem saraf parasimpatis menyebabkan kontraksi otot untuk penglihatan dekat.4
4.      Mekanisme Penglihatan
Manusia dapat melihat benda karena adanya cahaya. Cahaya yang ditangkap mata berturut-turut akan melalui kornea, aqueous humor, pupil, lensa, vitreus humor, dan retina. Lensa mata berfungsi memfokuskan cahaya yang terpantul dari benda-benda yang terlihat sehingga menjadi bayangan yang jelas pada retina. Cahaya ini akan merangsang fotoreseptor untuk menyampaikan impuls ke saraf penglihat dan berlanjut sampai lobus oksipitalis pada otak besar.8
Cahaya yang masuk melalui kornea diteruskan ke pupil. Pupil merupakan lubang bundar anterior di bagian tengah iris yang mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata. Pupil membesar bila intensitas cahaya kecil (bila berada di tempat gelap), dan apabila berada di tempat terang atau intensitas cahayanya besar, maka pupil akan mengecil. Yang mengatur perubahan pupil tersebut adalah iris. Iris merupakan cincin otot yang berpigmen dan tampak di dalam aqueous humor, karena iris merupakan cincin otot yang berpigmen, maka iris juga berperan dalam menentukan warna mata. Setelah melalui pupil dan iris, maka cahaya sampai ke lensa. Lensa ini berada diantara aqueous humor dan vitreous humor, melekat ke otot–otot siliaris melalui ligamentum suspensorium. Fungsi lensa selain menghasilkan kemampuan refraktif yang bervariasi selama berakomodasi, juga berfungsi untuk memfokuskan cahaya ke retina. Apabila mata memfokuskan pada objek yang dekat, maka otot–otot siliaris akan berkontraksi, sehingga lensa menjadi lebih tebal dan lebih kuat. Dan apabila mata memfokuskan objek yang jauh, maka otot–otot siliaris akan mengendur dan lensa menjadi lebih tipis dan lebih lemah. Bila cahaya sampai ke retina, maka sel–sel batang dan sel–sel kerucut yang merupakan sel–sel yang sensitif terhadap cahaya akan meneruskan sinyal–sinyal cahaya tersebut ke otak melalui saraf optik. Bayangan atau cahaya yang tertangkap oleh retina adalah terbalik, nyata, lebih kecil, tetapi persepsi pada otak terhadap benda tetap tegak, karena otak sudah dilatih menangkap bayangan yang terbalik itu sebagai keadaan normal.4,10
5.      Jaras Penglihatan
Prinsip jaras penglihatan yaitu dari kedua retina ke korteks penglihatan. Sinyal saraf penglihatan meninggalkan retina melalui nervus optikus. Di chiasma opticum, serabut nervus optikus dari bagian nasal retina menyeberangi garis tengah, tempat serabut nervus optikus bergabung dengan serabut-serabut yang berasal dari bagian temporal retina mata yang lain sehingga terbentuklah traktus optikus. Serabut-serabut dari setiap traktus optikus bersinaps di nukleus genikulatum lateralis dorsalis pada thalamus, dan dari sini, serabut-serabut genikulokalkarina berjalan melalui radiasi optikus menuju korteks penglihatan primer yang terletak di fisura kalkarina lobus oksipitalis.11,12
Serabut penglihatan juga melalui beberapa daerah yang lebih primitive di otak, yaitu :
1.      Dari traktus optikus menuju nukleus suprachiasmatik di hipotalamus, untuk pengaturan irama sirkadian yang menyinkronisasikan berbagai perubahan fisiologi tubuh dengan siang dan malam.
2.      Menuju nuklei pretektalis di otak tengah, untuk mendatangkan gerakan reflex mata agar mata dapat difokuskan ke arah objek yang penting dan untuk mengaktifkan reflex pupil terhadap cahaya.



 
3.      Menuju kolikulus superior, untuk mengatur pergerakan arah kedua mata yang cepat.
4.      Menuju nukleus genikulatum lateralis ventralis pada thalamus dan daerah basal otak sekitarnya, untuk membantu mengendalikan beberapa fungsi sikap tubuh.11
Jadi jaras penglihatan secara kasar dapat dibagi menjadi sistem primitif untuk otak tengah dan dasar otak depan, serta sistem baru untuk penjalaran sinyal penglihatan secara langsung ke dalam korteks penglihatan yang terletak di lobus occipitalis. Pada manusia, sistem baru bertanggung jawab untuk persepsi seluruh aspek bentuk penglihatan, warna, dan penglihatan sadar lainnya. Sebaliknya pada banyak hewan primitif, bentuk penglihatan bahkan dideteksi oleh sistem yang lebih primitif, yaitu dengan menggunakan kolikulus superior dengan cara yang sama seperti hewan mamalia menggunakan korteks penglihatan.6

6.      Pemeriksaan Ketajaman Penglihatan / Snellen Chart
Eye chart adalah tabel yang digunakan untuk memeriksa ketajaman penglihatan. Chart bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia disebut dengan tabel, sebab apa disebut dengan tabel grafik, ini dikarenakan urutan yang berlaku berupa tabel yang tersusun mulai yang paling besar sampai yang paling kecil atau sebaliknya. Tabel Grafik yang dimaksud merupakan bentuk objek yang mampu dan diketahui oleh manusianya.
Sedangkan tabel yang dimaksud yakni; tabel yang tersusun dengan dasar parameter yang jelas dan mampu di baca oleh manusia dan diharapkan seseorang untuk dapat melihat dari segala aspek bentuk yang ada di suatu negara dan/atau bangsa masing masing kelompok. Umumnya berbentuk huruf yang biasa disebut Snellen Chart. Huruf yang cenderung dibuat dalam bentuk alfabet dan ini banyak digunakan dinegara diseluruh dunia. Namun alfabet yang dimaksud juga memilki perbedaan dan atau ada yang banyak negara tidak mempergunakan salah satu dan/atau beberapa huruf pada umumnya. Orang yang akan dilakukan pemeriksaan menggunakan snellen chart yang dimaksud diminta untuk mengidentifikasi angka atau huruf pada tabel, biasanya dimulai dengan baris yang besar dan terus baris kecil sampai optotypes tidak dapat dipercaya diidentifikasi lagi seperti telah dijelaskan sebelumnya.
Secara teknis, uji ketajaman visual dengan grafik mata adalah pengukuran psikofisik yang mencoba untuk menentukan batas indera penglihatan. Macam/ jenis charts tersedia untuk anak-anak yang sangat muda atau orang dewasa yang buta huruf yang tidak memerlukan bentuk tulisan tersebut. Dan ada satu versi banyak menggunakan gambar sederhana atau pola bentuk tertentu. Seperti bentuk objek yang dicetak dengan huruf blok “E” terbalik dalam orientasi yang berbeda, yang disebut Jumpalitan E. Ketika pemeriksaan dilakukan manusianya hanya menunjukkan arah mana masing-masing “E” yang dilihat. Seperti halnya bagan Landolt C yaitu mirip: baris memiliki lingkaran dengan bagian dari segmen yang berbeda dihilangkan, dan pengujian menjelaskan di mana setiap bagian yang tidak terpenuhi atau patah berada. Dua yang terakhir jenis grafik juga mengurangi kemungkinan saat pemeriksaan menebak gambar.
           Adapun alternatif bentuk chart yang akan digunakan sebagai uji ketajaman penglihatan semi-otomatis berbasis komputer ke bagan mata dan telah dikembangkan, akan tetapi tidaklah umum. Alat yang dimaksud memiliki beberapa potensi keunggulan, seperti pengukuran yang lebih tepat dan kurang pemeriksa-induced bias. Sementara grafik objek pemeriksaan ketajaman penglihatan biasanya dirancang untuk penggunaan jarak 6 meter atau 20 kaki yang merupakan jarak penglihatan tanpa akomodasi/akomodasi istirahat selain dari pada itu, ada juga digunakan untuk menguji ketajaman penglihatan dekat atau tugas kerja (seperti membaca atau menggunakan komputer). Untuk situasi ini tabel titik dekat dibuat:2,13

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Mata menangkap pola iluminasi dalam lingkungan sebagai suatu “gambaran optik” pada sebuah lapisan sel-sel peka cahaya yaitu retina. Citra yang disalurkan melalui serangkaian pengolahan visual yang semakin kompleks setiap langkahnya sampai akhirnya secara sadar dipersepsikan sebagai gambar yang mirip dengan gambar asli. Ketidakjelasan penglihatan mungkin dapat terjadi saat dimana cahaya cahaya direfraksikan dan diakomodasi, tak lepas pula dari faktor usia, semakin tua seseorang, sel di bagian tengah lensa yang tidak dapat diganti menjadi mati dan kaku, sehingga berkas cahaya tidak dapat masuk.
Berdasarkan kasus wanita berusia 60 tahun dalam scenario. Wanita yang berusia tua cenderung mengalami kelelahan otot-otot mata disertai berkurangnya elastisitas lensa. Kelaianan mata pada usia lanjut mengenai organ- organ refraksi antara lain mengenai kornea, lensa, vitreus .Otot-otot yang bekerja pada mata antara lain 4 otot rektus dan 2 otot yang menyilang. Kelenturan lensa berkurang sehingga jumlah sinar yang jatuh pada retina tidak sepenuhnya jatuh tepat di retina.melainkan sinar datang, lewati kornea, vitreus lalu jatuh di belakang organ retina. Organ lain seperti nervus opticus dan lobus occipitalis dapat memperngaruhi penurunan penglihatan terhadap pasien usia lanjut. Kerusakan pada organ- organ dibelakang bola mata seperti saraf-saraf dan area cingula di lobus occipitasis mempengaruhi perjalanan di jaras- jaras penglihatan. Kelainan pada mata tua harus ditangani dengan lensa yang sesuai. Tujuan mengkoreksi pada kelainan ini supaya sinar jatuh tepat di makula lutea retina. Koreksi terbaik adalah dengan memakai kacamata positif ( lensa cembung).
DAFTAR PUSTAKA
1.      Sloane E, Widyastuti P, editor. Anatomi dan fisisologi untuk pemula. Jakarta: EGC, 2003.h.184-9.
2.      Ilyas SH. Ilmu penyakit mata. Edisi ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2005.
3.      Ganong WF. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi ke-22. Diterjemahkan oleh Novrianti A, Dany F, Resmisari T, Rachman LY, Muttaqin H, Nugroho AW, dkk. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2008.
4.      Sherwood L, Santoso BI, editor. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Jakarta: EGC, 2001.h.160-76.
5.      Eroschenko Victor P. Atlas histologi di fiore dengan korelasi fungsional. Edisi ke-9. Jakarta: EGC; 2005.h.333-8.
6.      Gunawijaya Fajar Arifin. Kumpulan foto mikroskopik histologi. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti; 2007.h.200-4.
7.      James B, Chew C, Bron A. Ophthalmology. 10th edition. UK: Blackwell Publishing; 2007.
8.      Optik online. Anatomi mata manusia. Diunduh dari www.optikonline.info, 20 April 2011.
9.      Cameron JR, Skofronick JG, Grant RM. Fisika tubuh manusia. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006.
10.  Doctorology. Mekanisme melihat. Post at 2009. Diunduh dari http://doctorology.net/wp-content/uploads/2009/03/mekanisme-penglihatan.pdf, 23 April 2011.
11.  Guyton Arthur C, Hall John E. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi ke-11. Jakarta: EGC; 2007.h.669-670.
12.  Budiono Ari. Nervus optikus. Post at 2008. Diunduh dari http://universitasriau.fk.ac.id/wp-content/uploads/2008/08/nervus optikus.pdf, 23 April 2011.
13.  Medicastore. Snellen chart. Post at 2009. Diunduh dari                       www.medicastore.com/snellen-chart-eye-chart, 24 April 2011.