Rabu, 03 April 2013

Organ Reproduksi Pria



Sistem reproduksi adalah suatu rangkaian dan interaksi organ dan zat dalam organisme yang dipergunakan untuk berkembang biak. Sistem reproduksi pada suatu organisme berbeda antara pria dan wanita.
Pada umumnya reproduksi baru dapat berlangsung setelah manusia tersebut mencapai masa pubertas atau dewasa kelamin, dan hal ini diatur oleh kelenjar-kelenjar endokrin dan hormon yang dihasilkan dalam tubuh manusia. Reproduksi juga merupakan bagian dari proses tubuh yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan suatu generasi.
Untuk kehidupan makhluk hidup reproduksi tidak bersifat vital artinya tanpa adanya proses reproduksi makhluk hidup tidak mati. Akan tetapi bila makhluk tidup tidak dapat bereproduksi maka kelangsungan generasi makhluk hidup tersebut terancam dan punah, karena tidak dapat dihasilkan keturunan (anak) yang merupakan sarana untuk melanjutkan generasi.

B.     Tujuan
1.            Mengetahui anatomi dan fisiologi sistem reproduksi pria.
2.             Mengetahui perkembangan sperma.
3.            Mengetahui gangguan pada sistem reproduksi pria

C.    Rumusan Masalah
1.            Bagaimana anatomi dan fisiologi sistem reproduksi pria ?
2.            Bagaimanakah terjadinya spermatogenesis ?
3.            Apa saja gangguan pada sistem reproduksi pria ?




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi pada Pria
1.      Organa genetalia maskulina externa terdiri dari penis dan scrotum.
a.       Penis
Penis adalah organ yang berfungsi untuk tempat keluar urine, semen serta sebagai organ kopulasi. Penis terdiri dari tiga bagian, yaitu : akar (menempel pada dinding perut), badan (merupakan bagian tengah dari penis), dan gland penis (ujung penis yang berebentuk seperti kerucut yang banyak mengandung ujung-ujung syaraf sensorik).Badan penis dibentuk dari tiga massa jaringan erektil silindris, yang terdiri dari dua korpus kavernosum ventral disekitar uretra. Uretra pada penis dikelilingi oleh jaringan erektil yang rongga-rongganya banyak mengandung pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa. Bila ada suatu rangsangan, rongga tersebut akan terisi penuh oleh darah sehingga penis menjadi tegang dan mengembang (ereksi).
·         Mekanisme Ereksi Penis
Ereksi adalah salah atu fungsi vascular korpus kavernosum dibawah pengendalian sistem saraf otak. Jika penis lunak maka stimulus simpatis  terhadap arterial penis menyebabkan kontriksi sebagian organ ini, sehingga aliran darah melalui penis tetap hanya sedikit. Saat stimulasi mental atau seksual, stimulasi parasimpatis menyebabkan vasodilatasi arterial yang memasuki penis sehingga lebih banyak darah yang memasuki vena dibandingkan yang dapat didrainase vena. Sinusoid korpus kavernosum berdistensi karena berisi darah dan menekan vena yang dikelilingi tunika albugiena non ditensi. Setelah ejakulasi, impuls simpatis menyebabkan terjadinya vasokontriksi arteri dan darah akan mengalir ke vena untuk dibawah menjauhi korpus. Penis mengalami detumesensi atau kembali ke kondisi lunak.
·         Ejakulasi
Ejakulasi adalah saat pengeluaran sperma yang merupakan titik kulminasi aksi seksual pada laki-laki. Semen diejakulasi melalui serangkaian semprotan. Impuls simpatis dari pusat reflek medulla spinalis menjalar di sepanjang saraf spinal lumbal (L1 dan L2) menuju organ dan menyebabkan kontraksi peristaltic dalam duktus testis, epididimis dan duktus deferen. Kontraksi ini menggerakkan sperma di sepanjang saluran. Impuls pada para simpatis menjalar pada saraf dan menyebabkan otot bulbo kavernosum pada dasar penis berkontraksi secara berirama. Kontraksi yang stimulant pada vesika seminalis, prostat dan kelenjar bulbo uretra menyebabkan terjadinya sekresi cairan seminal yang bercampur dengan sperma untuk membentuk semen.

b.      Skrotum
Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan melindungi testis. Skrotum juga bertindak sebagai sistem pengontrol suhu untuk testis, karena agar sperma terbentuk secara normal, testis harus memiliki suhu yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu tubuh.
Otot kremaster pada dinding skrotum akan mengendur atau mengencang sehinnga testis menggantung lebih jauh dari tubuh (dan suhunya menjadi lebih dingin) atau lebih dekat ke tubuh (dan suhunya menjadi lebih hangat).

2.      Organa genetalia maskulina interna terdiri dari testis, saluran pengeluaran (epididimis, vas deferens, saluran ejakulasi , uretra), dan saluran pelengkap (vesikula seminalis, kelenjar prostat, kelenjar cowper)
a.     Testis
Testis adalah organ lunak, berbentuk oval, dengan panjang 4 – 5 cm (1,5 – 2 inci) dan berdiameter 2,5 cm (1 inci) yang terletak di dalam skrotum. Testis berjumlah sepasang. Testis terdapat di bagian tubuh sebelah kiri dan kanan. Testis kiri dan kanan dibatasi oleh suatu sekat yang terdiri dari serat jaringan ikat dan otot polos. Funsi testis secara umum merupakan alat untuk memproduksi sperma dan hormone kelamin pria yang disebut testoteron. Dibagian kelenjar testis ada beberapa bagian yaitu :
a.)    Tunika albuginea, yaitu kapsul yang membungkus testis yang merentang ke arah dalam yang terdiri dari sekitar 250 lobulus.
b.)    Tubulus seminiferus, yaitu tempat berlangsungnya spermatogenenesis yang terlilit dalam lobules, di dalamnya terdapat sertoli yang fungsinya adalah member nutrisi pada spermatozoa yang sedang berkembang. Pembentukan hormone testosterone dan estrogen serta produksi hormone inhibin (negative feed back) sehingga FSH turun.
c.)    Duktus, yang membawa sperma masuk dari testis ke bagian exterior tubuh. Dalam testis sperma bergerak ke lumen tubulus rekti, kemudian menuju jaringan-jaringan kanal testis yang bersambung dengan 10-15 duktus deferen yang muncul dari bagian testis.

b.      Saluran pengeluaran
a)      Epididimis
Epididimis adalah struktur di dalam skrotum yang melekat di bagian belakang testis dan memanjang sampai ke vas deferens. Epididimis berfungsi untuk menahan testis di tempatnya dan menyimpan sperma selama proses pematangan. Struktur epididimis terdiri dari kaput (kepala), korpus (badan) dan kauda (ekor). Sperma yang diproduksi testis masuk ke kaput epididimis melalui korpus dan berhenti di kauda untuk disimpan. Ketika sperma keluar dan berjalan ke kauda, mereka belum bisa berenang dan membuahi sel telur. Pada saat mencapai kauda, mereka telah dapat membuahi sel telur. Sperma akan ditransfer ke vesikula seminalis melalui vas deferens. Sperma belum bisa berenang sehingga membutuhkan kontraksi otot untuk mendorong mereka ke vesikula seminalis, di mana mereka mencapai kematangan penuh.

b)      Vas Deferens
Vas Deferens merupakan saluran lanjutan dari epididimis. Maka vas deferens merupakan saluran lurus dan mengarah ke atas. Bagian ujungnya terdapat di dalam kelenjar prostat. Fungsi vas deferens ini adalah untuk jalanya (mengangkut) sperma dari epididimis menuju ke kantong sperma atau vesikula seminalis
c)      Saluran ejakulasi
Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan kantung semen dengan uretra. Saluran ini berfungsi untuk mengeluarkan sperma agar masuk ke dalam uretra.
d)     Uretra
Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat di dalam penis. Uretra berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen dan saluran untuk membuang urin dari kantung kemih.

c.       Saluran pelengkap
a.)      Vesikula seminalis
Vesikula seminalis dikenal juga dengan istilah kantung semen atau kantung mani, merupakan salah satu kelenjar assesori pada organ reproduksi pria, berjumlah sepasang dengan bentuk yang berlekuk-lekuk dan terletak di belakang-bawah kantung kemih (vesika urinaria). Saluran pada masing-masing vesikula seminalis bersatu dengan duktus deferens pada sisinya untuk membentuk duktus ejakulatorius. Dinding vesikula seminalis menghasilkan zat makanan yang merupakan sumber makanan bagi sperma.
b.)      Kelenjar prostat
       Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan terletak di bagian bawah kantung kemih. Kelenjar prostat menghasilkan getah yang mengandung kolesterol, garam dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma. Fungsi utamanya adalah untuk mengeluarkan dan menyimpan sejenis cairan yang menjadi dua pertiga bagian dari air mani.
c.)      Kelenjar cowper
      Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar yang salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar Cowper menghasilkan getah yang bersifat alkali (basa).

B.     Proses Spermatogenesis
Spermatogenesis adalah proses pembentukan sel spermatozoa (tunggal : spermatozoon) yang terjadi di organ kelamin (gonad) jantan yaitu testis tepatnya di tubulus seminiferus. Sel spermatozoa, disingkat sperma yang bersifat haploid (n) dibentuk di dalam testis melewati sebuah proses kompleks. Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal dengan melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel. Pematangan sel terjadi di tubulus seminiferus yang kemudian disimpan dalam epididimis. Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel germinal yang disebut spermatogonia (jamak). Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapis luar sel-sel epitel tubulus seminiferus. Spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu untuk membentuk sperma.
Tahapan pada proses spermatogenesis, yaitu :
a.     Spermatocytogenesis
Merupakan spermatogonia yang mengalami mitosis berkali-kali yang akan menjadi spermatosit primer. Spermatogonia merupakan struktur primitif dan dapat melakukan reproduksi (membelah) dengan cara mitosis. Spermatogonia ini mendapatkan nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang menjadi spermatosit primer. Spermatogonia yang bersifat diploid (2n atau mengandung 23 kromosom berpasangan), berkumpul di tepi membran epitel germinal yang disebut spermatogonia tipe A. Spermatogonia tipe A membelah secara mitosis menjadi spermatogonia tipe B. Kemudian, setelah beberapa kali membelah, sel-sel ini akhirnya menjadi spermatosit primer yang masih bersifat diploid. Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti selnya dan mengalami meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit sekunder.
b.        Tahapan Meiois
Spermatosit primer menjauh dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak dan segera mengalami meiosis I menghasilkan spermatosit sekunder yang n kromosom (haploid). Spermatosit sekunder kemudian membelah lagi secara meiosis II membentuk empat buah spermatid yang haploid juga. Sitokenesis pada meiosis I dan II ternyata tidak membagi sel benih yang lengkap terpisah, tapi masih berhubungan lewat suatu jembatan (Interceluler bridge). Dibandingkan dengan spermatosit I, spermatosit II memiliki inti yang gelap.
c.         Tahapan Spermiogenesis
Merupakan transformasi spermatid menjadi spermatozoa yang meliputi 4 fase yaitu fase golgi, fase tutup, fase akrosom dan fase pematangan. Hasil akhir berupa empat spermatozoa (sperma) masak. Ketika spermatid dibentuk pertama kali, spermatid memiliki bentuk seperti sel-sel epitel. Namun, setelah spermatid mulai memanjang menjadi sperma, akan terlihat bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor. Bila spermatogenesis sudah selesai, maka ABP testosteron (Androgen Binding Protein Testosteron) tidak diperlukan lagi, sel Sertoli akan menghasilkan hormon inhibin untuk memberi umpan balik kepada hipofisis agar menghentikan sekresi FSH dan LH.
Spermatozoa akan keluar melalui uretra bersama-sama dengan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar cowper. Spermatozoa bersama cairan dari kelenjar-kelenjar tersebut dikenal sebagai semen atau air mani. Pada waktu ejakulasi, seorang laki-laki dapat mengeluarkan 300 – 400 juta sel spermatozoa.


·         Hormon-Hormon Yang Berperan Dalam proses Spermatogenesis
Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon, diantaranya:
a.       Kelenjer hipofisis menghasilkan hormon peransang folikel (Folicle Stimulating Hormon/FSH) dan hormon lutein (Luteinizing Hormon/LH).
b.       LH merangsang sel leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa pubertas, androgen/testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder.
c.       FSH merangsang sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu spermatogonium untuk memulai spermatogenesis.   
d.      Hormon pertumbuhan, secara khusus meningkatkan pembelahan awal pada spermatogenesis.

C.    Gangguan pada Sistem Reproduksi Pria
1.      Hipogonadisme
Hipogonadisme adalah penurunan fungsi testis yang disebabkan oleh gangguan interaksi hormon, seperti hormon androgen dan testoteron. Gangguan ini menyebabkan infertilitas, impotensi dan tidak adanya tanda-tanda kepriaan. Penanganan dapat dilakukan dengan terapi hormon.
2.      Kriptorkidisme
Kriptorkidisme adalah kegagalan dari satu atau kedua testis untuk turun dari rongga abdomen ke dalam skrotum pada waktu bayi. Hal tersebut dapat ditangani dengan pemberian hormon human chorionic gonadotropin untuk merangsang terstoteron. Jika belum turun juga, dilakukan pembedahan.
3.      Uretritis
Uretritis adalah peradangan uretra dengan gejala rasa gatal pada penis dan sering buang air kecil. Organisme yang paling sering menyebabkan uretritis adalah Chlamydia trachomatis, Ureplasma urealyticum atau virus herpes.
4.      Prostatitis
Prostatitis adalah peradangan prostat yang sering disertai dengan peradangan pada uretra. Gejalanya berupa pembengkakan yang dapat menghambat uretra sehingga timbul rasa nyeri bila buang air kecil. Penyebabnya dapat berupa bakteri, seperti Escherichia coli maupun bukan bakteri.
5.      Epididimitis
Epididimitis adalah infeksi yang sering terjadi pada saluran reproduksi pria. Organisme penyebab epididimitis adalah E. coli dan Chlamydia.
6.      Orkitis
Orkitis adalah peradangan pada testis yang disebabkan oleh virus parotitis. Jika terjadi pada pria dewasa dapat menyebabkan infertilitas.
7.      Anorkidisme
Anorkidisme adalah penyakit dimana testis hanya bejumlah satu atau tidak ada sama sekali.
8.      Hyperthropic prostat
Hyperthropic prostat adalah pembesaran kelenjar prostat yang biasanya terjadi pada usia-usia lebih dari 50 tahun. Penyebabnya belum jelas diketahui.
 
9.      Hernia inguinalis
Hernia merupakan protusi/penonjolan isi rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan.
10.  Kanker prostat
Gejala kanker prostat mirip dengan hyperthropic prostat. Menimbulkan banyak kematian pada pria usia lanjut.
11.  Kanker testis
Kanker testis adalah pertumbuhan sel-sel ganas di dalam testis (buah zakar), yang bisa menyebabkan testis membesar atau menyebabkan adanya benjolan di dalam skrotum (kantung zakar).

12.  Impotensi
Impotensi yaitu ketidakmampuan ereksi ataupun mempertahankan ereksi penis pada pada hubungan kelamin yang normal.
13.  Infertilitas (kemandulan)
Yaitu ketidakmampuan menghasilkan ketururan. Infertilitas dapat disebabkan faktor di pihak pria maupun pihak wanita. Pada pria infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan mengfertilisasi ovum. Hal ini dapat disebabkan oleh:
·         Gangguan spermatogenesis, misalnya karena testis terkena sinar radio aktif, terkena racun, infeksi, atau gangguan hormon
·         Tersumbatnya saluran sperma
·         Jumlah sperma yang disalurkan terlalu sedikit











DAFTAR PUSTAKA


http://ritha-gangguanpadareproduksi20110909.blogspot.com/2011/09/kelainan-pada-sistem-reproduksi-pria.html





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar